Senin, 17 Oktober 2016

Menakar Feminisme (Catatan Retak “Feminisme untuk Pemula”)

Datang kembali ke saya, Gongyla, di sini malam ini,
Anda, mawar saya, dengan kecapi Lydian Anda. 
Ada melayang selamanya di sekitar Anda menyenangkan:
Sebuah keindahan yang diinginkan….
                    
Tahukah siapa pemilik puisi di atas? Sappho, nama yang asing dan nyaris terlupakan dalam dunia kepenyairan. Plato memasukkan wanita kelahiran Yunani Kuno ini ke dalam sepuluh penyair terbesar dunia. Lantas apa yang hebat dari dirinya? Yaitu, dia berani memilih jalan kepenulisan, saat kaumnya tidak peduli dengan persoalan tersebut, dan saat Cleopatra lebih fokus memugar kecantikannya, Sappho menajamkan penanya, lalu menerbitkan karyanya. Dalam buku “Feminisme untuk Pemula” milik Marisa Rueda dan kawan-kawan, Sappho dituliskan sebagai contoh perempuan hebat yang pernah hidup, dan buah pikirnya tanpa diskriminasi.

Selasa, 06 September 2016

Korelasi Cinta Dan Pernikahan (Belajar dari Buku Merriage With Heart)

What Is Love

Suatu hari Plato bertanya kepada gurunya, Socrates tentang makna cinta? Socrates menjawab, “Pergilah ke ladang, petik dan bawalah setangkai gandum yang paling besar dan paling baik. Tetapi ingat satu hal, kamu hanya boleh berjalan satu arah. Setelah kamu lewati, kamu tidak boleh kembali dan kesempatanmu hanya sekali.” Lalu Plato melakukannya. Tetapi dia kembali dengan tangan kosong. Melihat ini, Socrates bertanya, “Mengapa engkau kembali dengan tangan kosong?” Plato menjawab, “Aku melihat beberapa gandum yang besar dan baik saat melewati ladang, tetapi aku berpikir mungkin ada yang lebih besar dan lebih baik dari yang ini, jadi aku melewatinya saja. Namun ternyata aku tidak menemukan yang lebih baik dari yang aku temui di awal, akhirnya aku tidak membawa satu pun.” Socrates lalu menimpali, “Itulah Cinta!”

Selasa, 07 Juni 2016

ADA KAU DALAM SEBUAH KOL

Menyiapkan hidangan buka puasa di bulan Ramadhan, merupakan hal mengasyikkan yang lain. Saya memilih sebuah kol sebagai bahan utama hidangan. Mengiris-ngirisnya, membuat ingatan juga teriris. Tetiba teringat hampir setiap bulan Ramadhan, stok sayur jenis ini melimpah di rumah. Tentunya itu adalah kiriman seorang tante (tetapi kami memangilnya Ibu) dari kampung. Dia memang adalah seorang pedagang sayur-matur yang tergolong berhasil. Saya malah sering kewalahan menghabiskan kiriman sayur-mayur beliau, dan ujungnya mengasap di dapur tetangga. Begitulah, beliau sengaja melebihkan. Katanya agar saya membagi-bagikannya juga ke kerabat lain, dan tetangga.

Rabu, 20 April 2016

Mengintip Emansipasi Baca Tulis Ala Kartini

Tiada yang salah dengan perpedaan dan segala yang kita punya.
Yang salah adalah sudut pandang kita,
Yang membuat kita terpisah.

Bagaimana  Kartini Mengawalinya?

Kutipan di atas mencoba meluruskan pikiran-pikiran miring selama ini yang selalu saja memperhadap-hadapkan posisi perempuan dan laki-laki. Bahwa perbedaan yang ada, entah itu karena alasan nurture (gender) ataukah nature (biologis) bukanlah menjadi penghalang bagi laki-laki dan perempuan untuk bermitra. Setiap kita memiliki kesempatan yang sama dalam melakukan aktivitas apapun dalam proses pencerahan dan kecemerlangan pikiran. Inilah yang membuat Raden Ajeng Kartini termotivasi untuk melakukan perubahan di kalangan perempuan yang pada saat itu yang sama sekali tidak memikirkan diri dan partisipasinya dalam transformasi sosial (emansipasi). Dalam perjalanannya, terlihat bahwa Kartini tidak pernah menafikan keterlibatan laki-laki sebagai teman seperjuangannya. Ini terbukti pada potongan tulisan dalam bukunya yang terkenal, Habis Gelap Terbitlah Terang, “Akan lebih banyak lagi yang saya kerjakan untuk bangsa ini bila saya ada di samping seseorang laki-laki yang cakap, yang saya hormati, yang mencintai rakyat rendah sebagai saya juga. Lebih banyak, kata saya, daripada yang dapat kami usahakan sebagai perempuan yang berdiri sendiri”.

Senin, 21 Maret 2016

Lara Wirang dan Sebuah Lolipop

Sejak kecil, aku telah menghabiskan hari-hari di sebuah rumah tidak berlampu. Di sana semua gelap, meski rumah itu berjendela banyak dan berdaun pintu dua. Cahaya bisa saja masuk lewat jendela dan daun pintu, tetapi bagiku terang tidak berfungsi apa-apa. Kegelapan seakan telah menyatu pada diriku.

Hatiku juga gelap. Tidak pernah ada satu pun cinta yang meneranginya, lantaran memang tidak ingin kubuka untuk siapa pun. Aku tidak bisa menjanjikan banyak tentang hal ini, sebab aku tidak pernah mempelajarinya. Biasanya, aku hanya mendengar cerita-cerita orang, bahwa cinta itu seperti mengisap sebuah lolipop. Rasanya manis dan berwarna-warni. Seindah itukah cinta? Aku ragu.

Menulis, Puisi, dan Air Mata Darah

Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga kreativitas ditimbang-timbang. Kalimat ini pernah ditulis oleh Seno Gumira Ajidarma dalam buku Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara.  Seno memasuki ruang sadar manusia, bahwa menulis bukan hanya menyampirkan huruf-huruf menjalin kata, lalu kalimat. Tetapi lebih dari itu, menulis seumpama menata sebuah taman bunga seindah mungkin, agar yang melihatnya bahagia, meski entah siapa.

Berkarya dari menulis, efeknya mengarah langsung kejiwa yang merupakan tempat makna paling berkesan diabadikan. Olehnya itu, menulis, utamanya menulis karya sastra semisal puisi membutuhkan pembacaan dan perenungan sempurna pada hal-hal yang meruang, pun inmateri.

Senin, 08 Februari 2016

Saya Masih Anak Sekolah

Membaca judulnya saja, kuat keyakinan saya bahwa pembaca akan tergiring pada lagu “Anak Sekolah” milik Crisye. Meski bukan itu yang saya maksud, tetapi jika alasan mengleha-lehakan pikiran, silahkan saja. Tulisan ini, merujuk pada sebuah foto yang tampil di beranda facebook (FB) saya dini hari tadi. Foto yang terunggah lima tahun lalu, sebagai pembuktian bahwa saya selalu menjadi pembelajar. Dalam foto itu, saya terlihat sedang asyik memandu dua orang anak merunut abjad-abjad yang samar dikenalinya. Tetapi saya tidak ingin terburu-buru menyebut diri saya guru, meski dalam foto tersebut pada nama saya dilekatkan itu. Saya lebih senang dipanggil pelajar saja, makanya pada kartu tanda penduduk (KTP) saya sampai sekarang tetap pekerjaan saya terisi pelajar/ mahasiswa.
Alasannya sederhana, bahwa seorang guru adalah tempat bertumpuknya semua pengetahuan yang membutuhkan murid sebagai wadah peluapannya. Bukan sekadar menampung luapan saja, melainkan guru dan murid lalu mengolah lagi menjadi souvenir inovatif yang bernilai. Sementara saya tidak memiliki kapasistas demikian, sebab dalam batok kepala saya, berkumim banyak praduga-praduga benar salah yang terus didaur ulang dari buku-buku dan perilaku anak-anak setiap harinya. Semisal, teori yang saya tahu bahwa anak-anak yang pemarah tidak suka jika ditegur dengan nada keras, dan saya pun bersikap lemah lembut pada mereka. Walhasil, bukannya anak-anak tersebut tersentuh hatinya, malahan melonjak dan suka mengolok-ngolok, dan sering kali saya pun jadi sasaran olokan juga. Dari sinilah saya belajar bahwa tidak semua anak-anak pemarah bisa didekati dengan hati, tetapi selalu ada jalan lain menjagal marahnya, dan jalan itu tiba-tiba saja membentang saat masalah meruncing.

Ayo Pulang, Lebaran Tanpa Tetapi!

Seminggu jelang lebaran, telepon terus berdering dari keluarga saya, pun keluarga suami bertanya tentang pulang. Lebaran tahun ini, se...