Menyiapkan hidangan
buka puasa di bulan Ramadhan, merupakan hal mengasyikkan yang lain. Saya memilih
sebuah kol sebagai bahan utama hidangan. Mengiris-ngirisnya, membuat ingatan
juga teriris. Tetiba teringat hampir setiap bulan Ramadhan, stok sayur jenis
ini melimpah di rumah. Tentunya itu adalah kiriman seorang tante (tetapi kami
memangilnya Ibu) dari kampung. Dia memang adalah seorang pedagang sayur-matur
yang tergolong berhasil. Saya malah sering kewalahan menghabiskan kiriman
sayur-mayur beliau, dan ujungnya mengasap di dapur tetangga. Begitulah,
beliau sengaja melebihkan. Katanya agar saya membagi-bagikannya juga ke kerabat
lain, dan tetangga.
Selasa, 07 Juni 2016
Rabu, 20 April 2016
Mengintip Emansipasi Baca Tulis Ala Kartini
Tiada yang salah dengan perpedaan dan segala yang kita
punya.
Yang salah adalah sudut pandang kita,
Yang membuat kita terpisah.
Bagaimana Kartini Mengawalinya?
Kutipan di atas mencoba meluruskan
pikiran-pikiran miring selama ini yang selalu saja memperhadap-hadapkan posisi
perempuan dan laki-laki. Bahwa perbedaan yang ada, entah itu karena alasan nurture (gender) ataukah nature (biologis) bukanlah menjadi
penghalang bagi laki-laki dan perempuan untuk bermitra. Setiap kita memiliki
kesempatan yang sama dalam melakukan aktivitas apapun dalam proses pencerahan
dan kecemerlangan pikiran. Inilah yang membuat Raden Ajeng Kartini termotivasi
untuk melakukan perubahan di kalangan perempuan yang pada saat itu yang sama
sekali tidak memikirkan diri dan partisipasinya dalam transformasi sosial
(emansipasi). Dalam perjalanannya, terlihat bahwa Kartini tidak pernah
menafikan keterlibatan laki-laki sebagai teman seperjuangannya. Ini terbukti
pada potongan tulisan dalam bukunya yang terkenal, Habis Gelap Terbitlah
Terang, “Akan lebih banyak lagi yang
saya kerjakan untuk bangsa ini bila saya ada di samping seseorang laki-laki
yang cakap, yang saya hormati, yang mencintai rakyat rendah sebagai saya juga.
Lebih banyak, kata saya, daripada yang dapat kami usahakan sebagai perempuan
yang berdiri sendiri”.
Senin, 21 Maret 2016
Lara Wirang dan Sebuah Lolipop
Sejak kecil, aku telah
menghabiskan hari-hari di sebuah rumah tidak berlampu. Di sana semua gelap,
meski rumah itu berjendela banyak dan berdaun pintu dua. Cahaya bisa saja masuk
lewat jendela dan daun pintu, tetapi bagiku terang tidak berfungsi apa-apa. Kegelapan
seakan telah menyatu pada diriku.
Hatiku juga gelap.
Tidak pernah ada satu pun cinta yang meneranginya, lantaran memang tidak ingin
kubuka untuk siapa pun. Aku tidak bisa menjanjikan banyak tentang hal ini,
sebab aku tidak pernah mempelajarinya. Biasanya, aku hanya mendengar
cerita-cerita orang, bahwa cinta itu seperti mengisap sebuah lolipop. Rasanya manis
dan berwarna-warni. Seindah itukah cinta? Aku ragu.
Menulis, Puisi, dan Air Mata Darah
Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara
untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang
yang lain entah di mana. Cara itulah yang bermacam-macam dan di sanalah harga
kreativitas ditimbang-timbang. Kalimat ini pernah ditulis oleh Seno Gumira
Ajidarma dalam buku Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara. Seno memasuki ruang sadar manusia, bahwa
menulis bukan hanya menyampirkan huruf-huruf menjalin kata, lalu kalimat.
Tetapi lebih dari itu, menulis seumpama menata sebuah
taman bunga seindah mungkin, agar yang melihatnya bahagia, meski entah siapa.
Berkarya dari menulis, efeknya mengarah langsung
kejiwa yang merupakan tempat makna paling berkesan diabadikan. Olehnya itu, menulis,
utamanya menulis karya sastra semisal puisi membutuhkan pembacaan dan perenungan
sempurna pada hal-hal yang meruang, pun inmateri.
Senin, 08 Februari 2016
Saya Masih Anak Sekolah
Membaca judulnya saja, kuat keyakinan
saya bahwa pembaca akan tergiring pada lagu “Anak Sekolah” milik Crisye. Meski bukan
itu yang saya maksud, tetapi jika alasan mengleha-lehakan pikiran, silahkan
saja. Tulisan ini, merujuk pada sebuah foto yang tampil di beranda facebook (FB) saya dini hari tadi. Foto
yang terunggah lima tahun lalu, sebagai pembuktian bahwa saya selalu menjadi pembelajar.
Dalam foto itu, saya terlihat sedang asyik memandu dua orang anak merunut abjad-abjad
yang samar dikenalinya. Tetapi saya tidak ingin terburu-buru menyebut diri saya
guru, meski dalam foto tersebut pada nama saya dilekatkan itu. Saya lebih
senang dipanggil pelajar saja, makanya pada kartu tanda penduduk (KTP) saya
sampai sekarang tetap pekerjaan saya terisi pelajar/ mahasiswa.
Alasannya sederhana, bahwa seorang
guru adalah tempat bertumpuknya semua pengetahuan yang membutuhkan murid
sebagai wadah peluapannya. Bukan sekadar menampung luapan saja, melainkan guru
dan murid lalu mengolah lagi menjadi souvenir inovatif yang bernilai. Sementara
saya tidak memiliki kapasistas demikian, sebab dalam batok kepala saya,
berkumim banyak praduga-praduga benar salah yang terus didaur ulang dari buku-buku
dan perilaku anak-anak setiap harinya. Semisal, teori yang saya tahu bahwa
anak-anak yang pemarah tidak suka jika ditegur dengan nada keras, dan saya pun
bersikap lemah lembut pada mereka. Walhasil, bukannya anak-anak tersebut
tersentuh hatinya, malahan melonjak dan suka mengolok-ngolok, dan sering kali
saya pun jadi sasaran olokan juga. Dari sinilah saya belajar bahwa tidak semua
anak-anak pemarah bisa didekati dengan hati, tetapi selalu ada jalan lain
menjagal marahnya, dan jalan itu tiba-tiba saja membentang saat masalah
meruncing.
Kamis, 04 Februari 2016
Dee dan Secangkir Kopi Perjuangan
“Kita tidak bisa
menyamakan kopi dengan air tebu. Sesempurna apapun kopi yang kamu buat, kopi
tetap kopi, punya sisi pahit yang tak dapat kamu sembunyikan.” Demikianlah
fatwa Dewi Lestari (Dee) dalam buku kumpulan
prosa Filosofi Kopi. Meski saya tidak yakin bahwa dia sepenuhnya adalah
penikmat kopi. Perihal tumbuhan pendek berbiji wangi ini mendapat sanjungan pecintanya,
sudah menjadi opini umum. Itu wajar, sebab tanaman impor dari benua Afrika
tersebut memang mampu mengendalikan rasa di tenggorokan dan di hati. Apatah
lagi, jika dijerang dengan kualitas panas air yang pas, maka aromanya akan
menyeruak kemana-mana.
Pantas saya, jika Dee
memberi apresiasi besar terhadap kopi dalam tulisannya. Lantas, mengapa kopi?
Saya sengaja mengangkat kopi sebab beberapa tahun belakangan, kehidupan saya
senantiasa berdekapan dengannya. Cerita kedekatan saya dengan minuman pekat ini
berawal pada kebiasaan mengusir ngantuk saat dikepung tugas kuliah yang
bejibun. Padahal dahulunya, saya takut dengan kopi, sampai-sampai jika mencium
aromanya saya sontak lari dan menutup hidung; mual. Apalagi jika kopi ini sudah
dijerang dalam ceret, lalu baunya menghambur kemana-mana, saya sungguh tidak
suka. Berbeda halnya dengan teh. Waktu itu, saya belum terlalu familiar dengan
teh celup. Saya lebih sering melihat ibu, menapis ampas teh sendiri dan aroma
teh yang menyusupi celah-celah saringan teh sungguh menggoda. Saya suka minuman
ini. Tetapi itu dulu, sewaktu saya masih sering membandingkan indahnya warna
coklat mudah transparan teh dalam gelas, daripada kopi hitam pekat. Bacaanku saat
itu masih seputar komik Candy Candy milik Kyoko Mizuki yang mengisahkan
lika-liku perjuangan hidup dan cinta seorang gadis kecil bernama Candy yang
bermukim di sebuah panti asuhan sejak usia 6 tahun. Karena kisah ini berakhir
bahagia, maka selalu saya sandingkan komik-komiknya dengan segelas teh manis
hangat nan coklat transparan.
Rabu, 03 Februari 2016
Fashion dan Runaway ala Giddens
Mampir ke sebuah kedai
makanan, pandanganku tidak fokus pada menu makanan di hadapan, melainkan lebih
pada sebuah meja yang tidak begitu jauh dari tempat dudukku. Di sana, tiga
pasang muda-mudi duduk berhadap-hadapan, seraya bercerita banyak hal. Yang
sempat kudengar, salah satu dari mereka menawarkan model pakaian terbaru yang
langsung mendaulat dirinya sendiri sebagai model, dan dengan sigap wanita muda
itu berpose di depan teman-teman duduknya. Mereka bersorak-sorak, bak
menyemangati temannya yang berpose. Sore itu, kedai makanan riuh oleh mereka.
Karena, satu persatu yang lain mencoba barang yang ditawarkan. Lalu hiteris,
“sukaaa….”. Aku terkesiap, cantik
memang. Tetapi pikiranku ternganggu saat aku sempat menguping pembicaraan
mereka terkait harga dan asal pakaian itu. Fantastis, anak-anak muda itu tidak
tanggung-tanggung menghabiskan uang, demi pakaian yang menurut hemat saya,
biasa-biasa saja.
Dari sinilah, tiba-tiba
saja Anthony Giddens, Sang Sosiolog berkebangsaan Inggris mendekap pikiranku.
Bahwa, meski modernisasi membuka sebuah peluang menuju masyarakat madani,
tetapi sewaktu-waktu dia juga dapat bertindak sebagai mesin perusak dari nilai
dan tradisi lokal. Modernisasi yang dilakonkan oleh masyarakat post tradisional
dianggap oleh Giddens lebih berpikiran rasional dan maju. Dan inilah yang
dijadikan jembatan oleh orang-orang modern untuk mewujudkan kualitas madani
dalam masyarakat. Namun tidak sampai disitu, sebab Giddens juga mewanti-wanti
bahwa masyarakat modern yang dianggapnya rasional, memiliki kecenderungan besar
berorientasi pada modal dan keuntungan tanpa memedulikan kelestarian nilai dan
tradisi lokal.
Langganan:
Postingan (Atom)
Ayo Pulang, Lebaran Tanpa Tetapi!
Seminggu jelang lebaran, telepon terus berdering dari keluarga saya, pun keluarga suami bertanya tentang pulang. Lebaran tahun ini, se...
-
Menulis adalah suatu cara untuk bicara, suatu cara untuk berkata, suatu cara untuk menyapa, suatu cara untuk menyentuh seseorang yang lai...
-
Sejak kecil, aku telah menghabiskan hari-hari di sebuah rumah tidak berlampu. Di sana semua gelap, meski rumah itu berjendela banyak dan ...
-
Pelangi-pelangi alangkah indahmu Merah, kuning, hijau di langit yang biru Pelukismu agung Siapa gerangan Pelangi-pelangi cipta...






